Minggu, 08 Mei 2011

asosiasi bangsa-bangsa asia tenggara

ASOSIASI BANGSA-BANGSA ASIA TENGGARA

PEMBENTUKAN

Asosiasi Bangsa Bangsa Asia Tenggara atau ASEAN didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok oleh lima Negara Anggota, yaitu, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Brunei Darussalam bergabung pada tanggal 8 Januari 1984, Vietnam pada tanggal 28 Juli 1995, Laos dan Myanmar pada tanggal 23 Juli 1997, dan Kamboja pada tanggal 30 April 1999.

Berdasarkan data tahun 2006, kawasan ASEAN memiliki populasi sekitar 560 juta, luas 4,5 juta kilometer persegi, produk domestik bruto hampir US $ 1.100 miliar, dan total perdagangan sekitar US $ 1.400 miliar.

TUJUAN

Deklarasi ASEAN menyatakan bahwa maksud dan tujuan dari Asosiasi adalah: (1) untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan budaya di kawasan (2) untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas regional melalui penghormatan terhadap keadilan dan supremasi hukum dalam hubungan antara negara-negara di kawasan dan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

PERKEMBANGAN

Menjelang abad ke-21, ASEAN menyepakati untuk mengembangkan suatu kawasan yang terintegrasi dengan membentuk suatu komunitas negara-negara Asia Tenggara yang terbuka, damai, stabil dan sejahtera, saling peduli, diikat bersama dalam kemitraan yang dinamis di tahun 2020. Harapan tersebut dituangkan dalam Visi ASEAN 2020 di Kuala Lumpur tahun 1997. Untuk merealisasikan harapan tersebut, ASEAN mengesahkan Bali Concord II pada KTT ke-9 ASEAN di Bali tahun 2003 yang menyetujui pembentukan Komunitas ASEAN (ASEAN Community) dan target tersebut dipercepat menjadi tahun 2015.

Untuk menjadikan ASEAN sebagai Asosiasi yang berdasarkan hukum dan menjadi subyek hukum, telah ditandatangani Piagam ASEAN pada tahun 2007. Setelah diratifikasi oleh 10 negara anggota ASEAN, Piagam ini mulai berlaku pada tanggal 15 Desember 2008.

PIAGAM ASEAN

Setelah melalui proses panjang, pada KTT ASEAN ke-13 di Singapura tahun 2007, negara-negara anggota ASEAN telah menandatangani Piagam ASEAN. Setelah melalui proses ratifikasi di masing-masing Negara Anggota, Piagam ASEAN mulai diberlakukan sejak tanggal 15 Desember 2008. Presiden RI telah menandatangani RUU Pengesahan Piagam ASEAN menjadi UU No. 38/2008 pada tanggal 6 November 2008.

Piagam ASEAN terdiri dari Preamble, 13 Bab dan 55 Pasal beserta lampiran-lampirannya yang menegaskan kembali keberlakuan semua nilai, prinsip, peraturan dan tujuan ASEAN seperti yang telah tercantum dalam berbagai perjanjian, deklarasi, konvensi, traktat dan dokumen-dokumen dasar ASEAN lainnya.

Piagam ASEAN mengubah ASEAN dari asosiasi yang bersifat longgar menjadi organisasi yang memiliki legal personality dan berdasarkan aturan-aturan yang jelas. Selain itu, Piagam juga menegaskan bahwa ASEAN harus menjadi people-oriented organization. Piagam ASEAN mengikat negara-negara anggota dalam melaksanakan berbagai perjanjian yang telah disepakati bersama.

KERJASAMA POLITIK KEAMANAN ASEAN

Kerjasama ini ditujukan untuk menciptakan keamanan, stabilitas dan perdamaian khususnya di kawasan dan umumnya di dunia. Kerjasama dalam bidang politik dan keamanan dilakukan menggunakan instrumen politik seperti Kawasan Damai, Bebas Dan Netral (Zone Of Peace, Freedom And Neutrality/ ZOPFAN), Traktat Persahabatan dan Kerjasama (Treaty of Amity and Cooperation /TAC in Southeast Asia), dan Kawasan Bebas Senjata Nuklir Di Asia Tenggara (Treaty on Southeast Asia Nuclear Weapon-Free Zone/SEANWFZ).

Selain ketiga instrumen politik tersebut, terdapat pula forum kerjasama dalam bidang politik dan keamanan yang disebut ASEAN Regional Forum (ARF).


Beberapa kerjasama politik dan keamanan:

  • Traktat Bantuan Hukum Timbal Balik di Bidang Pidana (Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters/MLAT);
  • Konvensi ASEAN tentang Pemberantasan Terorisme (ASEAN Convention on Counter Terrorism/ACCT);
  • Pertemuan para Menteri Pertahanan (Defence Ministers Meeting/ADMM) yang bertujuan untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas kawasan melalui dialog serta kerjasama di bidang pertahanan dan keamanan;
  • Penyelesaian sengketa Laut China Selatan;
  • Kerjasama Pemberantasan kejahatan lintas negara yang mencakup pemberantasan terorisme, perdagangan obat terlarang, pencucian uang, penyelundupan dan perdagangan senjata ringan dan manusia, bajak laut, kejahatan internet dan kejahatan ekonomi internasional;
  • Kerjasama di bidang hukum; bidang imigrasi dan kekonsuleran; serta kelembagaan antar parlemen;

Silahkan klik di sini untuk informasi lebih lengkap mengenai kerjasama politik keamanan ASEAN


KERJASAMA EKONOMI ASEAN

Kerjasama ekonomi ditujukan untuk menghilangkan hambatan-hambatan ekonomi dengan cara saling membuka perekonomian negara-negara anggota dalam menciptakan integrasi ekonomi kawasan. Kerjasama ekonomi mencakup kerjasama-kerjasama di sektor perindustrian, perdagangan, dan pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas di ASEAN (AFTA).

Beberapa kerjasama ekonomi adalah:

  • Kerjasama di sektor industri yang dilakukan melalui Kerjasama Industri ASEAN (ASEAN Industrial Cooperation /AICO);
  • Kerjasama di sektor perdagangan dilakukan dengan pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (AFTA) melalui
    pemberlakuan Tarif Efektif Bersama (Common Effective Preferential Tariff - CEPT) antara 5-10% atas dasar produk per produk, baik produk ekspor maupun impor guna
    menghilangkan kendala perdagangan di antara negara-negara ASEAN;
  • Perdagangan Bebas dengan Mitra Wicara (Free Trade Agreement/FTA);
  • Kerjasama di sektor jasa yang meliputi kerjasama di sektor transportasi dan telekomunikasi, pariwisata, dan keuangan;
  • Kerjasama di sektor komoditi dan sumber daya alam;
  • Kerjasama di sub-sektor pertanian dan kehutanan;
  • Kerjasama di sektor energi dan mineral;
  • Kerjasama di sektor usaha kecil dan menengah; dan
  • Kerjasama dalam bidang pembangunan.

Silahkan klik di sini untuk informasi lebih lengkap mengenai kerjasama ekonomi ASEAN


KERJASAMA FUNGSIONAL ASEAN

Kerjasama fungsional dalam ASEAN mencakup bidang-bidang kebudayaan, penerangan, pendidikan, lingkungan hidup, ilmu pengetahuan dan teknologi, penanganan bencana alam, kesehatan, ketenagakerjaan, pembangunan sosial, pengentasan kemiskinan, pemberdayaan perempuan, kepemudaan, penanggulangan narkoba, peningkatan administrasi dan kepegawaian publik.

Beberapa kerjasama fungsional adalah:

  • Kerjasama kebudayaan, penerangan, dan pendidikan, yang kegiatan-kegiatannya berbentuk workshop dan simposium di bidang seni dan budaya, ASEAN Culture Week, ASEAN Youth Camp, ASEAN Quiz, pertukaran kunjungan antar seniman ASEAN, pertukaran berita melalui tv, penyiaran berita dan informasi mengenai ASEAN melalui radio-radio
    nasional, Student Exchange Programme ASEAN, dan pembentukan ASEAN University Network (AUN).
  • Kerjasama pembangunan pedesaan dan pengentasan kemiskinan;
  • Kerjasama kesehatan, ketenagakerjaan, serta kerjasama pembangunan dan kesejahteraan sosial;
  • Kerjasama ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup dan bencana alam;
  • Kerjasama sumber daya manusia yang mencakup bidang pemajuan wanita, pemuda, penanggulangan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan obat-obat terlarang (P4GN), pengelolaan Yayasan ASEAN, serta bidang kepegawaian dan administrasi.

Silahkan klik di sini untuk informasi lebih lengkap mengenai kerjasama fungsional ASEAN

HUBUNGAN EKSTERNAL ASEAN

Visi ASEAN 2020 menegaskan ASEAN yang berwawasan ke depan akan memainkan peran penting dalam masyarakat internasional dan memajukan kepentingan bersama ASEAN.
Kerjasama antara Asia Tenggara dan Timur Laut negara telah dipercepat dengan diadakannya pertemuan puncak tahunan antara para pemimpin ASEAN, Cina, Jepang, dan Republik Korea (ROK) dalam proses ASEAN plus Three.

Hubungan ASEAN Plus Three terus diperluas dan diperdalam di bidang dialog dan kerjasama keamanan, kejahatan transnasional, perdagangan dan investasi, lingkungan, keuangan dan moneter, pertanian dan kehutanan, energi, pariwisata, kesehatan, tenaga kerja, budaya dan seni, ilmu pengetahuan dan teknologi, informasi dan teknologi komunikasi, kesejahteraan sosial dan pembangunan, pemuda, dan pembangunan pedesaan dan pemberantasan kemiskinan. Sekarang ini ada tiga belas pertemuan tingkat menteri di bawah kerjasama ASEAN Plus Three.

ASEAN terus mengembangkan hubungan kerjasama dengan Mitra Dialog, yaitu, Australia, Kanada, Cina, Uni Eropa, India, Jepang, Korsel, Selandia Baru, Federasi Rusia, Amerika Serikat, dan United Nations Development Programme. ASEAN juga meningkatkan kerjasama dengan Pakistan di beberapa daerah kepentingan bersama.

Konsisten dengan tekad untuk meningkatkan kerjasama dengan daerah-daerah berkembang lainnya, ASEAN mempertahankan kontak dengan organisasi-organisasi antar-pemerintah, yaitu Organisasi Kerjasama Ekonomi, the Gulf Cooperation Council, the Rio Group, the South Asian Association for Regional Cooperation, the South Pacific Forum, dan juga melalui Asian-African Sub-Regional Organization Conference.

Sebagian besar Negara-negara Anggota ASEAN juga berpartisipasi aktif dalam kegiatan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), Asia-Europe Meeting (ASEM), dan East Asia-Latin America Forum (EALAF).

PEMBEBASAN VISA

Pada tanggal 25 Juli 2006 di Kuala Lumpur ke sepuluh Negara ASEAN telah menandatangani Persetujuan Kerangka Kerja ASEAN mengenai Pembebasan Visa. Persetujuan ini berfungsi sebagai rujukan bagi Negara-negara anggota ASEAN dalam rangka memberikan kemudahan bagi warganya untuk masuk ke negara anggota ASEAN lainnya dengan ketentuan yang telah disepakati. Pemerintah Indonesia sudah meratifikasi Persetujuan dimaksud pada tanggal 22 Mei 2009 (Keppres 19 tahun 2009).

asean

They may have met only for the first time, but that has not stopped them from interacting and exchanging ideas here at the 18th ASEAN Summit. Having enjoyed peace and friendship for at lease a decade, they are also fortunate to be in the middle of booming region, where the economic future also looks bright.

For Nguyen Huu Trung from Viet Nam, the ice was quickly broken on this inaugural experience.

"I see that many of my friends from other ASEAN countries are friendly. We talk, we share and we eat together. We have many new ideas about how to develop the youth movement in particular to make ASEAN prosperity. The only problem is, the time is very short."

Similar sentiments were shared by Mr Liauw Kee Meng from Singapore, and his Bruneian counterpart Ms Ruzanna Zukipli.

"It is very comfortable to work with youth from other Member States. It is an honour to be involved in something so big," said the Singapore delegate. Agreeing, Ms Ruzanna said "We are a mixture of 10 nations with different views, opinions, culture, history, but one identity."

The interests of the delegates also reflected their diversity.

Mr Mazhan B Mujail from Malaysia, for example, wants ASEAN to be a leader of sports and education.

The optimism in the future of ASEAN was also obvious to many of the delegates.

"If ASEAN is to be a Community in 2015, the important factor is to be a good neighbours. To respect as other as we are different, we have to share each others," said Mr Pulawit Wanichsetakul from Thailand.

"I had a lovely time with my new friends from ASEAN countries. We have exchanged our knowledge and experiences," said Sohkiethtisack Kingsada from Lao PDR.

Commenting on the programmes, Myanmar's Dr Tun Tun Oo said "This kind of exchange programme can be enlarged even beyond ASEAN. We will know the knowledge and experience from other countries. It can be positive to unite the position of ASEAN. Such kind of activities can be done regularly."

A common theme which emerged, is the friendship forged over the three days.

"It has been a truly amazing experienced during the past three days. After the meetings with my friends and the leaders, I am convinced that ASEAN is a beautiful regional organisation, with so many beautiful people. Our compliments to the ASEAN Chair, all ASEAN Leaders, and the Secretariat!" said Leon Flores III from the Philippines.

"Three days of gathering and training relating to youth. We are provided with a lot of opportunity to express themselves. We are happy together," said Sok Thevutia from Cambodia.

As for Ms Sherly Mole from Indonesia, she can take pride in how her country had upheld its reputation as a senior member of ASEAN.

"Everything went very smooth and great. All youth delegates were coming with brilliant ideas and formulate their fresh ideas nicely in the Joint Statement. And look at the Leaders responses in our Joint Statement. There were very conducive exchange of views during the meeting. They are great, receptive and supportive."

Similarly, ASEAN's future lies with the young people. We hope they will pass this down through the generations.

Al Qaeda

Al Qaeda leader Osama bin Laden was killed in a firefight with U.S. forces in Pakistan on Sunday, ending a nearly 10-year worldwide hunt for the mastermind of the Sept. 11 attacks.

Bay Ismoyo | AFP | Getty Images
US Marines watch TV as President Barack Obama announces the death of Osama Bin Laden, at Camp Dwyer in Heldman Province in Aghanistan.

"Justice has been done," President Barack Obama declared in a hastily called, late-night White House speech announcing the death of the elusive head of the militant Islamic group behind a series of deadly bombings across the world.

Bin Laden's death is highly symbolic but it was unclear whether it would mark a turning point in the worldwide war against a highly fractured network of militants, or end any sooner the battle against the Taliban in Afghanistan A source familiar with the U.S. operation said bin Laden was shot in the head.

His death was confirmed separately by officials in Pakistan. Jubilant, flag-waving celebrations erupted in Washington and New York.

It was the biggest national security victory for Obama since he took office in early 2009 and could give him a political boost as he seeks re-election in 2012.

Obama may now find it easier to wind down the nearly decade-old war in Afghanistan, begun after the Sept. 11, 2001, attacks on New York and Washington that killed nearly 3,000.

Pakistanis Not Told

But the operation could complicate relations with Pakistan already frayed over U.S. drone strikes in the west of the country and the jailing of a CIA contractor accused of killing two Pakistani men.

A U.S. official said Pakistani authorities were told the details of the raid after it had taken place.

Obama said U.S. forces led a targeted operation that killed bin Laden in a compound in Abbotabad north of Islamabad. No Americans were killed in the operation and they took care to avoid civilian casualties, he said.

Bin Laden and three adult men, including a son of bin Laden were killed along with a woman who was used as a shield by a male combatant, officials said. The operation took under 40 minutes.

A U.S. helicopter was lost due to a mechanical problem and its crew and assault force safely evacuated. The operation was monitored in real-time by CIA Director Leon Panetta and other intelligence officials in a conference room at CIA headquarters in Langley, Virginia, an official said.

Osama Bin Laden
Getty Images
Osama bin Laden in a picture taken in November, 2001.

Senior administration officials said they were finally led to bin Laden after more than four years tracking one of his trusted couriers, and the man's brother, using intelligence obtained from detainees captured after Sept. 11.

They finally identified the men's residence in August 2010, and quickly realized the $1 million, three-story property was far more than the home of two individuals with no discernible source of wealth.

Possible Reprisals

Authorities said bin Laden's hideaway, built in 2005, was about eight times larger than other homes in the area, located when it was built at the end of a narrow dirt road. It had security features including 12- to 18-foot walls topped with barbed wire, internal walls for extra privacy, and access controlled through two security gates.

It had no telephone or Internet connection. Bin Laden's death triggered a travel alert for Americans worldwide, the U.S. State Department said, warning of the potential for anti-American violence.

Thousands of people gathered outside the White House, waving American flags, cheering and chanting "USA, USA, USA." Car drivers blew their horns in celebration and people streamed to Lafayette Park across from the street, as police vehicles with their lights flashing stood vigil.

"I'm down here to witness the history. My boyfriend is commissioning as a Marine next week. So I'm really proud of the troops," Laura Vogler, a junior at American University in Washington, said outside the White House.

Similar celebrations erupted in New York's Ground Zero, site of the World Trade Center twin towers felled by hijacked airplanes on Sept. 11.

A market perception that the death of bin Laden reduced the security risks facing the United States lifted the dollar from a three-year low and raised stock index futures. U.S. crude oil prices also fell.

"Current oil prices are regarded by most analysts as carrying significant risk premium at current levels and good news on the geopolitical front has the potential to move prices back below $100," said Ric Spooner, chief analyst at CMC Markets in Sydney However, some analysts said the market impact would be short lived.

Many Americans had given up hope of finding bin Laden after he vanished in the mountains of Afghanistan in late 2001. Intelligence that originated last August provided the clues that eventually led to bin Laden's trail, the president said. A U.S. official said Obama gave the final order to pursue the operation last Friday morning.

"The United States has conducted an operation that killed Osama bin Laden, the leader of al Qaeda and a terrorist who is responsible for the murder of thousands of men, women and children," Obama said.

Captured Dead

Former President George W. Bush, who vowed to bring bin Laden to justice "dead or alive" but never did, called the operation a "momentous achievement" after Obama called him with the news.

Martin Indyk, a former U.S. assistant secretary of state for near eastern affairs, described bin Laden's death as "a body blow" to al Qaeda at a time when its ideology was already being undercut by the popular revolutions in the Arab world.

Other experts were more cautious.

"It changes little in terms of on-the-ground realities — by the time of his death bin Laden was not delivering operational or tactical orders to the numerous al Qaeda affiliates across the world," said Rick Nelson of the Center for Strategic and International Studies in Washington.

Statements of appreciation poured in from both sides of Washington's political divide.

Republican Senator John McCain declared, "I am overjoyed that we finally got the world's top terrorist."

Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu called the death of bin Laden a "resounding triumph" for Washington and its allies. India said the killing underlined its concern that "terrorists belonging to different organizations find sanctuary in Pakistan," India's home ministry said in New Delhi.

The United States is conducting DNA testing on bin Laden and used facial recognition techniques to help identify him, a U.S. official said on Monday.

The United States is ensuring that bin Laden's body is being handled in accordance with Islamic practice and tradition, a U.S. official said. The New York times reported the body was buried at sea.

Bin Laden had been the subject of a search since he eluded U.S. soldiers and Afghan militia forces in a large-scale assault on the Tora Bora mountains of Afghanistan in 2001.

The trail quickly went cold after he disappeared and many intelligence officials believed he had been hiding in Pakistan.

While in hiding, bin Laden had taunted the West and advocated his militant Islamist views in videotapes spirited from his hideaway.

Besides Sept. 11, Washington has also linked bin Laden to a string of attacks — including the 1998 bombings of American embassies in Kenya and Tanzania and the 2000 bombing of the warship USS Cole in Yemen.

Osama: Jika Saya Mati, Misi Saya Tetap Hidup

PADA tahun 2004, Osama bin laden menawarkan gencatan senjata kepada negara-negara Eropa agar tidak menyerang kaum Muslim.

Dia pun mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) bisa terhindar dari serangan 11 September jika mereka menghentikan askinya untuk mengancam keamanan umat Muslim.

Namun, setelah sekian lama vakum, Osama kembali muncul pada 2006. Kali ini pesannya lebih cenderung ke politik.

Pada Januari 2006, dia memberikan komentar kepada rakyat Amerika, dia mengomentari jajak pendapat yang mengatakan bahwa rakyat Amerika menginginkan penarikan pasukan dari Irak. Dia pun menyarankan para warga Amerika sebuah buku berjudul "Rogue State: A Guide to the World's Only Superpower" yang menawarkan jalan perdamaian.

Dalam kurun waktu beberapa tahun ini, setelah serangan 11 September, pencarian terhadap Osama semakin mendekati titik terang.

Setelah ditangkapnya Khalid Shaikh Mohammed, yang diduga menjadi otak serangan 11 September, pada Maret 2003, para pejabat di Islamabad dan Washington selalu memberikan pernyataan adanya rumor tertangkapnya Osama bin Laden.

Pasukan AS pun diterjunkan di wilayah perbatasan untuk mencari Osama, para mantan anggota Taliban mengatakan bahwa Osama selama ini selalu berpindah-pindah, dia selalu melakukan perjalanan di wilayah pegunungan dengan sekelompok kecil rombongan pasukan keamanannya.

Osama selalu berjanji berulangkali bahwa dia bersedia mati dalam perjuangannya untuk mengusir Israel dari tanah Yerusalem dan Amerika dari tanah Arab Saudi dan Irak.

"Amerika tidak bisa mendapatkan saya hidup-hidup," demikian pernyataan Osama pada saat wawancara dengan jurnalis Pakistan sesaat setelah invasi AS dimulai di Afghanistan, seperti dilansir Associated Press, Senin (2/5/2011).

"Saya mungkin bisa dimusnahkan, namun misi saya tidak akan pernah berhenti," demikian pesan Osama.(rhs)

Osama bin Laden Telah Lama Wafat (Desember 2001)

Pejabat CIA, Richard Clarke setelah tragedi 11 September (9/11) memberikan pernyataan publik yang dimuat dalam The New Yorker, “Osama tidak saja penyandang dana, dia pun pimpinan. Kita harus mendapatkan orang ini. Dia sedang giat membangun jaringan, semua berada di bawah kendalinya.”

Clarke bersama rekannya John O’Neill turut menggelembungkan nama Osama bin Laden sebagai buruan paling dicari. Bush pun turut melakukan ‘marketing’ gratisan sosok putera Arab itu.

Sementara itu, John O’Neill membuat sebuah siklus global bagi rencana-rencan mereka berdua, menghubungi berbagai rekan tersembunyi di banyak negara untuk memunculkan dugaan adanya aktifitas jaringan teroris Osama di negara-negara itu. Saat Clarke getol mengkampanyekan keamanan nasional dari teroris, O’Neill berkeliling dunia, mengkoordinasi kisah-kisah Osama bersama mitra-mitra internasionalnya. Dengan kata lain, Clarke dan O’Neill sedang membentuk cara pandang dunia terhadap apa yang dijulukinya ‘teroris’

Berbagai element dari legenda 9/11 dibentuk dengan bantuan sejumlah pemain-pemain internasional : melalui intelijen Pakistan – ISI (organisasi yang sangat dekat dengan CIA dan intelijen Inggris), Taliban dipersenjatai dan berhasil dipasangkan sebagai penguasa setempat bumi Afghanistan; di bawah pengawasan Intelijen Jerman, pimpinan pembajak pesawat pada tragedi 9/11, Mohamed Atta mampu mempersiapkan sel Hamburg, kelompok konspirator dan berbagi tempat dengan agen senior Al-Qaeda Ramzi Binalshibh; atas kewenangan Perancis, khususnya Hakim Jean-Louis Bruguiere (rekan O’Neill), Zacarias Moussaoui – tertangkap Agustus 2001, dan pimpinan senior Al-Qaeda Abu Zubaydah (“ikan besar” pertama yang ditangkap Maret 2002), dapat mempersiapkan agenda rahasianya menciptakan legenda 9/11.

Inggris pun turut berperan, negeri Mr Bean ini menjadi poin transit utama, pusat pendidikan, sekaligus sumber-sumber bukti penting yang menuju para pembajak dan berbagai agen Al-Qaeda, terutama Omar Saeed, Zacarias Mousssaoui, dan Richard Reid (The Shoe Bomber). Banyak negara-negara yang berperan dalam menggarap elemen-elemen teror 9/11.

Osama sendiri tidak kunjung tertangkap hingga hari ini, disaat publik internasional meyaksikan getolnya perburuan pimpinan Al-Qaeda itu. Publik tersamarkan pandangannya dari sebuah informasi penting : Osama telah wafat !.

Koran New York Times, 11 Juli 2002 menulis, “Dengan ego setinggi gunung Everest, Osama tidak mungkin terus diam begitu lama. Dia selalu ingin memperoleh keuntungan bahkan dari hal yang tidak pernah dilakukannya. Apakah dia akan tetap bisu selama sembilan bulan dan tidak menyuarakan keberadaannya ?”

Seorang pejabat Taliban yang tidak mau disebutkan namanya menyatakan bahwa dirinya telah menghadiri pemakaman Osama di Tora Bora sepuluh hari lalu. Dia menyebutkan setidaknya 30 pejuang Taliban, kerabat dan rekan-rekan dekat Osama menghadiri upacara pemakaman. Selanjutnya ditegaskan bahwa sangat sulit melacak kembali makam Osama, karena sesuai tradisi Wahabi, makam seorang muslim tidak boleh memiliki ciri atau bangunan apa pun.

Osama meninggal karena komplikasi paru-paru, sebagian menyebutkan dia menderita Hepatitis C. CNN menyebutkan Osama menderita diabetes, tekanan darah rendah dan terluka di kakinya. “Dia kekurangan cairan, dan sakit ginjal.” Kabar meninggalnya Osama pun ditegaskan oleh Presiden Pervez Musharraf, diduga ia meninggal pada bulan Desember 2001.

Kiri: Osama dalam keadaan sehat. Kanan, video 27 Desember 2001, terlihat gambar Osama yang sakit.

Fihak intelijen Israel pun turut memastikan kematian Osama bin Laden sembari menegaskan pewaris Al Qaeda telah dipilih untuk meneruskan teror. Karenanya, Intelijen Israel menyatakan surat dari Osama yang dipublikasikan diyakini adalah palsu atau bukan ditulis Osama.


Samping : Berita duka yang dimuat buletin Mesir Al-Wafd, 26 Desember 2001 Vol. 15 No. 4633.

Disebutkan Osama telah wafat 10 hari yang lalu.

Berikut beberapa pernyataan yang menyebutkan Osama telah mati :

Hamid Karzai – Presiden Afghan (CNN) : “Osama bin Laden mungkin telah mati, tetapi mantan pimpinan Taliban Mullah Omar masih hidup.”

Dale Watson – Ketua Kontra Terorisme FBI, (BBC) : “Saya pikir Osama bin Laden mungkin telah mati.”

surat kecil untuk tuhan

Judul : Surat Kecil Untuk Tuhan
Penerbit : Inandra Publisher
Penulis : Agnes Davonar
Kategori : True Story
Cetakan : ke-8
Tebal : x + 232 Halaman

Kisah Nyata Gadis Berusia 13 Tahun Bertahan Hidup Dari Kanker Ganas Paling Mematikan Di Dunia

Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini.
Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku berharap tidak ada lagi hal yang sama terjadi padaku,
Terjadi pada orang lain

Cuplikan di atas adalah sepenggal bait dari tulisan Keke, seorang penderita kanker ganas yang menyerang bagian wajah, Rabdomiosarkoma atau kanker jaringan lunak pertama di Indonesia. Keke atau Gita Sesa Wanda Cantika adalah seorang gadis remaja berusia 13 tahun ketika divonis memiliki penyakit kanker mematikan tersebut yang dapat membunuhnya dalam waktu 5 hari. Kanker jaringan lunak itu menggerogoti bagian wajahnya sehingga terlihat buruk menjadi seperti monster. Walau dalam keadaan sulit, Keke terus berjuang untuk tetap hidup dan tetap bersekolah layaknya gadis normal lainnya.

Indonesia di Mata Seorang Jerman

Judul : A Magic Gecko

Penulis : Horst Henry Geerken

Penerbit : Penerbit Buku Kompas

Terbit : I, Februari 2011

Tebal : 407 halaman

Harga : Rp. 86.000

Pengalaman menginjakkan kaki di negeri-negeri Timur selalu menyisakan pertanyaan bagi mereka yang terbiasa dengan alam pikiran Barat. Kosomologi, cara berpikir, gaya hidup, serta sistem nilai Timur yang berbeda dengan Barat, adalah faktor yang membuat "perjumpaan" dengan Timur terkesan selalu bertumbukan.

Padahal jika saja semua perbedaan itu dapat dikompromikan, pertemuan itu akan menjadi lebih indah. Tidak harus ada gejolak ataupun penolakan yang berarti. Sebaliknya keselarasanlah yang terjadi.

Keberhasilan itulah kira-kira telah dicapai oleh Horst Henry Geerken selama menjalankan tugasnya di Indonsia. Ia tidak hanya dapat memahami semesta pemikiran orang-orang Indonesia, namun juga menerimanya sebagai bagian budaya.

Geerken yang berkebangsaan Jerman adalah pegawai telekomunikasi Jerman yang tengah menjalankan tugasnya di Indonesia. Ia datang ke Indonesia pada tahun 1963 untuk membantu membangun jaringan telekomunikasi yang sangat dibutuhkan pada saat itu.

Kehadirannya di Indonesia menjelang kejatuhan Presiden Soekarno telah membawa Geerken ke dalam sebuah pengalaman menarik sekaligus menegangkan. Menarik karena ia menjadi saksi sebuah peristiwa sejarah Indoneisa. Menegangkan karena Geerken melihat sendiri kekacauan politik yang berakhir dengan pertumpahan darah.

Dalam buku ini Geerken menyajikan berbagai catatan tentang Indonesia dan keindonesiaan. Catatatan-catatan ini seperti sebuah upaya untuk memotret realitas masyarakat Indonesia secara umum.

Sebut saja kecenderungan masyarakat Indonesia untuk memercayai hal-hal yang bersifat suparantural, mistik dan serta tahayul. Bagi Geerken hal-hal tersebut bertolak belakang dengan rasionalitas Barat.

Namun Geerken tidak menolak hal tersebut. Malah dalam beberapa kasus ia membiarkan pembantunya melakukan praktik itu di lingkungannya. Hal ini menunjukkan bahwa Geerken tidak alergi dengan perbedaan-perbedaan yang ada.

Meskipun begitu, Geerken juga mencatat sejumlah masalah budaya yang dialami oleh masyarakat Indonesia. Bagi Geerken hal itu tidak lepas dari latar belakang yang rumit. Inferioritas terhadap bangsa berkulit putih misalnya, adalah wujud keberhasilan pemerintah kolonial dalam menanamkan ketakutan yang berlebihan terhadap bangsa penjajah. Akibatnya, dalam jangka waktu panjang, orang-orang berkulit putih dianggap sebagai orang dengan derajat yang lebih tinggi.

Namun Geerken mencatat juga, sepak terjang Soekarno dalam politik internasional adalah bentuk pemberontakan dan usaha untuk lepas dari inferioritas tersebut. Soekarno yang terang-terangan melawan imperialisme Amerika Serikat dan Inggris adalah simbol perlawanan itu.

Lewat catatannya Geerken ingin menegaskan bahwa bangsa yang terjajah pun memliki potensi untuk melakukan perlawanan serta pemberontakan. Penolakan terhadap intervensi negara-negara Barat adalah sebuah pesan bahwa banyak masalah di negara berkembang tidak selalu dapat diselesaikan dengan formualsi Barat.

Tidak mengherankan apabila kemudian Soekarno dekat dengan Blok Timur. Namun inilah yang memicu kegerahan Amerika Serikat. Dari sinilah berhembus isu bahwa dinas rahasia Amerika Serikat, CIA, memiliki peran yang strategis dalam menjatuhkan Presiden Soekarno.

Bahkan ada indikasi bahwa lembaga yang sama juga berperan dalam pembasmian orang-orang yang dianggap berhaluan komunis. Mengenai hal tersebut Geerken menegaskan, bukti-bukti yang ada mengarah kepada keterlibatan Amerika Serikat.

Namun Amerika Serikat tidak mau mengakuinya. Padahal ada bukti bahwa Kedutaan Besar Amerika Serika di Jakarta memiliki daftar nama orang-orang komunis dalam tubuh militer Indonesia. Orang-orang ini kemudian disingkirkan secara sistematis (hal. 264).

Kedekatan Geerken dengan Soekarno tidak hanya menguak sejumlah aktivitas politik Soekarno, namun juga kehidupan pribadi presiden pertama Republik Indonesia tersebut. Di sinilah sisi lain Soekarno terungkap. Ia tidak hanya seorang presiden, namun juga seorang seniman dengan citarasa yang tinggi. Sebagian kecil kisah cintanya pun diungkapkan Geerken dalam buku ini.

Meskipun buku ini memiliki sub judul Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno, tetapi tidak seluruh bab dalam buku ini mengulas hal tersebut. Sebagian besar isi buku ini adalah pengalaman Geerken bertemu dengan banyak orang Indonesia, baik secara kultural maupun filosofis. Dari sinilah ia mengenal "kekayaan" keindonesiaan.

Semua itu diungkapkan Geerken secara objektif, lugas, bahkan dengan sangat cair. Inilah yang membuat buku ini tidak membosankan ketika dinikmati.

Template by : kendhin x-template.blogspot.com